Kamis, 27 September 2012

STANDART 7 : PENGELOLAAN DINI HIPERTENSI PADA KEHAMILAN



1.1      Menetapkan Masalah Mutu yang diselenggarakan
Penyebab kematian ibu dapat digolongkan pada kematian obstetrik langsung dan tidak langsung. Kematian obsterik langsung disebabkan oleh komplikasi kehamilan antara lain perdarahan 28%, infeksi 11% dan eklampsi 24,5%, partus lama 5,2%. Kematian tidak langsung disebabkan oleh penyakit atau komplikasi lain yang sudah ada sebelum kehamilan/persalinan antara lain anemia, kurang energy kronik (KEK) dan hipertensi kronik 5 – 10 %. Angka kejadian hipertensi kronik pada berbagai populasi berbeda 0.5 – 4% (rata-rata 2.5%). Hipertensi kronik pada kehamilan 80% idiopatik dan 20% oleh karena penyakit ginjal. (http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/09/hipertensi-dalam-kehamilan_14.html)
Hipertensi menyebabkan gangguan sekitar 5 -10 persen dari seluruh kehamilan, dan dapat menjadi suatu komplikasi yang mematikan, yaitu pendarahan dan infeksi, yang berkontribusi besar terhadap morbiditas dan angka kematian ibu. Dengan hipertensi, sindrom preeklampsia, baik sendiri atau yang berasal dari hipertensi kronis, adalah yang paling berbahaya. WHO meninjau secara sistematis angka kematian ibu di seluruh dunia (Khan dan rekan, 2006), di negara-negara maju, 16 persen kematian ibu disebabkan karena hipertensi. Persentase ini lebih besar dari tiga penyebab utama lainnya: perdarahan-13 persen, aborsi-8 persen, dan sepsis-2 persen.

1.2      Menetapkan Prioritas Masalah
Dari sumber data yang diperoleh melalui kajian pustaka penulis mendapatkan data yakni sebuah tinjauan yang dilakukan oleh WHO angka kematian ibu di seluruh dunia 16% kematian ibu disebabkan karena hipertensi. Persentase ini lebih besar dari tiga penyebab utama lainnya: perdarahan 13%, aborsi-8%, dan sepsis-2%. (Khan dan rekan, 2006)
Dari sinilah penulis menetapkan prioritas masalah yakni pentingnya pengelolaan hipertensi dalam kehamilan baik itu hipertensi ataupun hipertensi kronik.

1.3      Analisis Masalah
Berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2000, yang menjelaskan Efek hipertensi kronik pada kehamilan adalah solution plasenta, preeclampsia, gangguan perinatal hingga kerusakan organ-organ vital tubuh dikarenakan hipertensinya. Sehingga dari sinilah penulis menganalisis masalah yang diakibatkan hipertensi kronik sangatlah besar, jadi apabila tidak ada penanganan secara dini maka akan berakibat fatal terhadap ibu maupun janin. Selain itu, pengelolaan dini hipertensi kehamilan juga dapat mempengaruhi persalinan ibu. Ibu yang dideteksi secara dini dapat melakukan persalinan dengan aman baik secara seksio secaria ataupun pervaginam jika memang memungkinkan

1.4      Kajian Masalah
Dari hasil pencarian penulis melalui situs web didapatkan angka kematian ibu yang disebabkan pre eklamsi adalah 24,5%. (http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/09/hipertensi-dalamkehamilan_14.html)
Angka ini masih tergolong sangat tinggi. Penulis berpendapat bahwa hal ini terjadi karena beberapa faktor :
a.       Banyaknya ibu hamil yang tidak mau melakukan kunjungan ANC (K1-K4)
b.      Banyaknya ibu hamil yang hanya berkunjung sekali (K1,K2, atau K4 saja) sehingga tenaga kesehatan kurang bisa melakukan deteksi secara maksimal ataupun kalau bisa sudah terlambat.
c.       Terbatasnya tenaga kesehan yang berada didekat ibu hamil, sehingga tidak bisa melakukan deteksi hipertensi.
d.      Jarak tempuh yang terlalu jauh dapat mengakibatkan terlambatnya penanganan.
e.       Masih banyaknya dukun disekitar ibu hamil, sehingga mereka lebih mempercayainya dibandingkan dengan bidan/tenaga kesehatan lainnya.
1.5 Menetapkan dan Menyusun Upaya Penyelesaian
1)      Hipertensi Esensial
Hipertensi esensial adalah penyakit hipertensi yang mungkin disebabkan oleh faktor heriditer serta dipengaruhi oleh faktor emosi dan lingkungan. Tekanan darah sekitar 140/90 sampai 160/100. Penanganan
a)      Dalam kehamilan :
Dianjurkan mentaati pemeriksaan antenatal yang teratur dan, jika perlu, dikonsuiltasikan kepada ahli.
Dianjurkan cukup istirahat, menjauhi emosi, dan jangan bekerja jangan terlalu berat
Penambahan berta badan yang agresif dicegah. Dianjurkan untuk diet tinggi protein, rendah hidrat arang, rendah lemak, dan rendah garam.
Pengawasan terhadap janin harus lebih teliti, di samping pemeriksaan biasa, dapat dilakukan pemeriksaan monitor janin lainnya seperti elektrodiografi fetal. Ukuran biparietal (USG), penentuan kadar estriol, amnioskopi, pH darah janin, dan sebagainya
Pemberian obat-obatan :
a)      Anti-hipertensif: serpasil, katapres, minipres, dan sebagainya.
b)      Obat penenang : fenobarbital, valium, frisium ativan, dan sebagainya.
Pengakhiran kehamilan baik yang muda maupun yang sudah cukup bulan harus dipikirkan bila ada tanda-tnda hipertensi ganas (tekanan darah 200/120 atau pre-eklamsi berat), apalagi bila janin telah meninggal dalam kandungan. Pengakhiran kehamilan ini sebaiknya dirundingkan antar disiplin dengan ahli penyakit dalam ; apakah memang ada ancaman terhadap jiwa wanita ini. (Rustam Mochtar ; 1998 : 143)
2)      Penyakit Ginjal Hipertensif
Penyakit ginjal dengan gejala hipertensi yang dijumpai pada wanita hamil adalah :
·         Glomerulonerfritis akut dan kronik.
·         Pielonefritis akut dan kronik
Penanganan :
1.      Pemeriksaan antenatal yang baik di mana pengobatan penyakit ginjal bekerja sama dengan ahli nefrologi
2.      Keadaan ibu  dan pertumbuhan janin harus diawasi
3.      Berat tidaknya penyakit dan perlu tidaknya pengakhiran kehamilan adalah atas indikasi dan pembicaraan beberapa disiplin ilmu yaitu kebidanan penyakit dalam, dan ilmu kesehatan anak.(Rustam Mochtar ; 1998 : 144)
3)      Hipertensi
Pencegahan :
§  Pembatasan teori, cairan, dan diet rendah garam tidak dapat mencegah hipertensi karena kehamilan, malah dapat membahayakan janin.
§  Manfaat aspirin, kalsium dan lain-lain dalam mencegah hipertensi karena kehamilan terbukti.
§  Yang lebih perlu adalah deteksi dini dan penanganan cepat-tepat. Kasus harus ditindaklanjuiti secara reguler dan diberi penerangan yang jelas bilamana harus kembali ke pelayanan kesehatan. Dalam rencana pendidikan keluarga (suami, orang tua, metua, dll) harus dilibatkan sejak awal.
§  Pemasukan cairan terlalu banyak mengakibatkan edema paru.
                                (Sarwono, 20005 ; 211)

Penanganan
Jika kehamilan <37 :=":" jalan="jalan" minggu="minggu" o:p="o:p" rawat="rawat" secara="secara" tangani="tangani">
§  Pantau tekanan darah, proteinuria, dan kondisi janin setiap minggu,
§  Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklampsia
§  Jika kondisi janin memburuk, atau terjadi pertumbuhan janin terhambat, rawat dan pertimbangan terminasi kehamilan

4)      Pre-eklampsia dan Eklampsia
Pre-Eklampsia dan eklampsia merupakan komplikasi yang berkelanjutan dengan penyebab yang sama.
Untuk mencegah kejadian pre-eklampsia ringan dapat dilakukan nasehat tentang dan berkaitan dengan :
1.      Diet-makanan
Makanan tinggi protein, tinggi karbohidrat, cukup vitamin, dan rendah lemak. Kurangi garam apabila berat badan bertambah atau edema. Makanan berorientasi pada empat sehat lima sempurna. Untuk meningkatkan jumlah protein dengan tambahan satu butir telur setiap hari.
2.      Cukup istirahat
Istirahat yang cukup pada hamil semakin tua dalam arti bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan kemampuan. Lebih banyak duduk atau berbaring ke arah punggung janin sehingga aliran darah menuju plasenta tidak mengalami gangguan
3.      Pengawasan antenatal (hamil)
Bila terjadi perubahan perasaan dan gerak janin dalam rahim segera datang ke tempat pemeriksaan. Keadaan yang memerlukan perhatian :
§    Uji kemungkinan pre-eklampsia :
§  Pemeriksaan tekanan darah atau kenaikanya
§  Pemeriksaan tinggi fundus uteri
§  Pemeriksaan kenaikan berat badan atau edema
§  Pemeriksaan protein dalam urin
§  Kalau mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, gambaran darah umum, dan pemeriksaan retina mata.
§    Penilaian kondisi janin dalam rahim
§  Pemantuan tinggi fundus uteri
§  Pemeriksaan janin : gerakan janin dalam rahim, denyut jantung janin, pemantuan air ketuban
§  Usulkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi.
Dalam keadaan yang meragukan, maka merujuk penderita merupakan sikap yang terpilih dan terpuji.
a.       Pre-eklampsia ringan
§  Bisa dilakukan dirumah
§  Peningkatan partum plasenta dan ginjal yang baik
1.      Sering beristirahat seharian, dalam posisi tidur menyamping
2.      Dapat diberikan pedoman khusus yang berkenaan dengan waktu istirahat, termasuk jumlah waktu istirahat, jumlah waktu istirahat setiap hari dan aktivitas seharian yang dianjurkan atau dihindari.
3.      Semakin khusus petunjuk yang diberikan, ibu cenderung dapat memahami dengan jelas segala informasi dan batasannya
§  Peningkatan perfusi plasenta dan gagal ginjal yang baik
1.      Susunan makanan sebaiknya mengandung tinggi protein ( 80-100 gr/hari atau 1,5 gr/kg/hari)
2.      Asupan natrium sebaiknya dalam jumlah sedang, tidak melebihi 6 gr/hari
§  Modifikasi diet
1.      NSTs dan atau riwayat biofinis dilakukan setiap minggu
2.      Ujian tambahan meliputi rangkaian USG untuk mengevaluasi pertumbuhan janin, amniosintesis untuk menentukan kematangan paru-paru janin dan uji stress kontraksi, jira hasil NSTs mengindikasikan kepentingan uji tersebut.
§  Evaluasi keadaan umum
1.      Ibu dipantau setiap 1-2 minggu
2.      memberikan pemahaman pada ibu agar dapat mengenali tanda keadaan yang buruk
3.      Lakukan pemantauan tekanan darah di rumah setiap hari
b.   Pre-Eklampsia Berat
§  Dihospitalisasi jika perlu
§  Peningkatan kesejahteraan ibu
1.      Tirah baring total dalam posisi miring kiri, yang dapat mengurangi tekanan pada vena kava, dengan demikian perfusi meningkat. Aliran darah ke ginjal yang meningkat, membantu mengurangi kadar angrotensin II, meningkatkan diuresis, serta menurunkan tekanan darah.
2.      Protein tinggi, diet garam dalam jumlah sedang, dilanjutkan
3.      Berat badan ibu ditimbang setiap hari ( untuk mendeteksi odema) dan dievaluasi bila ada perubahan kondisi, melalui pengkajian tekanan darah, suhu tubuh, reflekstendon profunda serta klonus, odema (menyeluruh dan piting), sakit kepala, gangguan penglihatan dan nyeri epigastrik.
§  Terapi Pengobatan
1.      Magnesium sulfat (MgSo4) ; pengobatan pilihan untuk pencegahan konveksi
2.      Pemberian obat penenang dengan fenobarbital 30-60 mg per oral setiap 6 jam bisa diindikasikan
3.      Obat antiperientif seperti hidrolazin (apresoline) atau labetalol (normodyne) mungkin digunakan jika nilai tekanan diastolik sebesar 110 mmhg atau di atasnya. Cairan dan elektrolit digantikan seperlunya, bergantung pada keadaan ibu.
c.       Eklampsia
§  Tindakan untuk mengontrol kejang, bisa meliputi pemberian magnesium sulfat per bolos, obat penenang jika diperlukan dilantin untuk pencegahan kejang
§  Terapi yang sebelumnya didiskusikan
§  Pertahankan jalan nafas
§  Ibu dipantau bila ada odema paru yang mungkin diterapi furosemild clasix
§  Digitalis diberikan untuk mengatasi kegagalan sirkulasi
§  Ibu bisa dipindahkan ke unit perawatan intensif
d.      Syarat-syarat pemberian MgSo4
§    Frekuensi pernafasan minimal 16 kali per menit
§    Reflek pattela (+)
§    ASI minimal 30 ml 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir
(Maternal Neonatal 2002 ; M 39)
1.5      Melaksanakan dan menyelesaikan
1.      Hipertensi Esensial
Dianjurkan mentaati pemeriksaan antenatal yang teratur. Dianjurkan cukup istirahat, menjauhi emosi, dan jangan bekerja jangan terlalu berat. Penambahan berta badan dianjurkan untuk diet tinggi protein, rendah hidrat arang, rendah lemak, dan rendah garam.
Pemberian obat-obatan : Anti-hipertensif: serpasil, katapres, minipres, dan sebagainya. Obat penenang : fenobarbital, valium, frisium ativan, dan sebagainya.
2.      Penyakit Ginjal Hipertensif

Keadaan ibu dan pertumbuhan janin harus diawasi. Pemeriksaan antenatal yang baik di mana pengobatan penyakit ginjal bekerja sama dengan ahli nefrologi.
3.      Hipertensi

Pembatasan teori, cairan, dan diet rendah garam tidak dapat mencegah hipertensi karena kehamilan, malah dapat membahayakan janin. Manfaat aspirin, kalsium dan lain-lain dalam mencegah hipertensi karena kehamilan terbukti. Yang lebih perlu adalah deteksi dini dan penanganan cepat-tepat. Kasus harus ditindaklanjuiti secara reguler dan diberi penerangan yang jelas bilamana harus kembali ke pelayanan kesehatan. Dalam rencana pendidikan keluarga (suami, orang tua, metua, dll) harus dilibatkan sejak awal. Pemasukan cairan terlalu banyak mengakibatkan edema paru. (Sarwono, 20005 ; 211)
Penanganan jika kehamilan <37 :=":" jalan="jalan" minggu="minggu" o:p="o:p" rawat="rawat" secara="secara" tangani="tangani">
§  Pantau tekanan darah, proteinuria, dan kondisi janin setiap minggu,
§  Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklampsia
§  Jika kondisi janin memburuk, atau terjadi pertumbuhan janin terhambat, rawat dan pertimbangan terminasi kehamilan.
4.      Pre-eklampsia dan Eklampsia

Diet-makanan Makanan tinggi protein, tinggi karbohidrat, cukup vitamin, dan rendah lemak, pengawasan antenatal (hamil), dan cukup istirahat.

 Pre-eklampsia ringan
Bisa dilakukan dirumah, sering beristirahat seharian, dalam posisi tidur menyamping, susunan makanan sebaiknya mengandung tinggi protein ( 80-100 gr/hari atau 1,5 gr/kg/hari), asupan natrium sebaiknya dalam jumlah sedang, tidak melebihi 6 gr/hari.
Pre-Eklampsia Berat
Dihospitalisasi jika perlu, tirah baring total dalam posisi miring kiri, yang dapat mengurangi tekanan pada vena kava, dengan demikian perfusi meningkat. Protein tinggi, diet garam dalam jumlah sedang, dilanjutkan berat badan ibu ditimbang setiap hari ( untuk mendeteksi odema) dan dievaluasi bila ada perubahan kondisi, melalui pengkajian tekanan darah, suhu tubuh, reflekstendon profunda serta klonus, odema (menyeluruh dan piting), sakit kepala, gangguan penglihatan dan nyeri epigastrik.
§  Terapi Pengobatan
1.      Magnesium sulfat (MgSo4) ; pengobatan pilihan untuk pencegahan konveksi
2.      Pemberian obat penenang dengan fenobarbital 30-60 mg per oral setiap 6 jam bisa diindikasikan
3.      Obat antiperientif seperti hidrolazin (apresoline) atau labetalol (normodyne) mungkin digunakan jika nilai tekanan diastolik sebesar 110 mmhg atau di atasnya. Cairan dan elektrolit digantikan seperlunya, bergantung pada keadaan ibu.
Eklampsia
Tindakan untuk mengontrol kejang, bisa meliputi pemberian magnesium sulfat per bolos, obat penenang jika diperlukan untuk pencegahan kejang
§  Terapi yang sebelumnya didiskusikan
§  Pertahankan jalan nafas
§  Ibu dipantau bila ada odema paru yang mungkin diterapi furosemild clasix
§  Digitalis diberikan untuk mengatasi kegagalan sirkulasi
§  Ibu bisa dipindahkan ke unit perawatan intensif
e.       Syarat-syarat pemberian MgSo4
§    Frekuensi pernafasan minimal 16 kali per menit
§    Reflek pattela (+)
§    ASI minimal 30 ml 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir
(Maternal Neonatal 2002 ; M 39)

1.6      Memantau dan Menilai Kontak Masalah
Saat ini angka kejadian hipertensi masih sangat tinggi. Jadi diperlukan perbaikan dalam hal sarana dan prasarana seperti, meningkatkan desa siaga
dan juga dari tenaga kesehatan.




           
DAFTAR PUSTAKA
Mochtar, rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Bandung : Pajajaran Press
Prawiroharjo, Sarwono. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta :YBP-SP
Varney, Helen. 2001. Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC
Bagian Obstetri dan ginekologi FKUPB. 1984. Obstetri dan ginekologi. Bandung : Pajajaran Press
Prawiroharjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : EGC

0 komentar: