Senin, 14 Januari 2013

adaptasi psikologi ibu hamil trimester II


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Kehamilan dianggap sebagai waktu krisis yang diakhiri dengan kelahiran bayi. Selama kehamilan kebanyakan ibu mengalami perubahan psikologis dan emosional. Perubahan psikologis dan emosional ini tampaknya berhubungan dengan perubahan biologis yang dialami ibu selama kehamilan. Emosi ibu hamil cenderung labil. Reaksi yang ditunjukkan terhadap kehamilan dapat saja berlebihan dan mudah berubah-ubah. Ibu hamil sangatlah sensitif dan rapuh. Banyak ketakutan yang muncul akan bahaya yang mungkin saja terjadi pada diri ibu maupun janinnya. Ketakutan yang tidak mendasar ini mungkin disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada tubuhnya tampaknya tidak bisa ia kendalikan dan proses hidupnya berubah dan tidak dapat dikembalikan lagi. Inilah saat ibu hamil memerlukan saran, dorongan, pengarahan dan bantuan dari orang-orang sekitarnya
Oleh karena perubahan psikologis secara spesifik dapat diduga berdasarkan perubahan biologis selama kehamilan. Perubahan psikologis ini dapat dibagi berdasarkan trimester kehamilan. Sebagai seorang bidan, dengan menyadari adanya perubahan-perubahan tersebut pada ibu hamil dapat memberikan dukungan dan memperlihatkan keprihatinan, kekhawatiran, ketakutan dan pertanyaan-pertanyaannya.

1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja kebutuhan psikologis ibu hamil pada trimester ke II?
2.      Bagaimana support keluarga terhadap ibu hamil di trimester II?
3.      Bagaimana support dari tenaga kesehatan terhadap ibu hamil di trimester II?
4.      Bagaimana menciptakan rasa aman dan nyaman selama kehamilan terhadap ibu hamil di trimester II?
5.      Bagaimanakah persiapan suami istri untuk menjadi orang tua pada kehamilan trimester II?
6.      Bagaimana persiapan sibling pada kehamilan trimester II?



1.3  TUJUAN
1.      Untuk mengetahui apa saja kebutuhan psikologis ibu hamil pada trimester II
2.      Untuk mengetahui peran keluarga dalam memberi support ibu hamil pada trimester II
3.      Untuk mengetahui peran tenaga kesehatan dalam memberi support ibu hamil pada trimester II
4.      Untuk memahami cara menciptakan rasa aman dan nyaman ibu hamil di trimester II
5.      Untuk memahami persiapan suami istri untuk menjadi orang tua pada kehamilan di trimester II
6.      Untuk mengetahui persiapan sibling pada kehamilan di trimester II
  BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kebutuhan Psikologis Ibu Hamil Pada Trimester II
Selama kehamilan kebanyakan ibu mengalami perubahan psikologis dan emosional. Perubahan psikologis ini dapat dibagi berdasarkan trimester kehamilan.
1. Pembagian Perubahan Psikologis pada Trimester II
Trimester kedua dapat dibagi menjadi dua fase; prequickeckening (sebelum adanya pergerakan janin yang dirasakan ibu) dan postquickening (setelah adanya pergerakan janin yang dirasakan oleh ibu), yang dapat dilihat pada penjelasan berikut :
a. Fase Prequickening
Selama akhir trimester pertama dan masa preqiuckening pada trimester kedua, ibu hamil mengevaluasi lagi hubungannya dan segala aspek di dalammya dengan ibunya yang telah terjadi selama ini. Ibu menganalisa dan mengevaluasi kembali segala hubungan interpersonal yang telah terjadi dan akan menjadi basis/dasar bagaimana ia mengembangkan hubungan dengan anak yang akan dilahirkannya. Ia akan menerima segala nilai dengan rasa hormat yang telah diberikan ibunya, namun bila ia menemukan adanya sikap yang negatif, maka ia akan menolaknya. Perasaan menolak terhadap sikap negatif ibunya akan menyebabkan rasa bersalah pada dirinya. Kecuali bila ibu hamil menyadari bahwa hal tersebut normal karena ia sedang mengembangkan identitas keibuannya.
Proses yang terjadi dalam masa pengevaluasian kembali ini adalah perubahan identitas dari penerima kasih sayang (dari ibunya) menjadi pemberi kasih sayang (persiapan menjadi seorang ibu). Transisi ini memberikan pengertian yang jelas bagi ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya sebagai ibu yang memberikan kasih sayang kepada anak yang akan dilahirkannya.
b. Fase Postquickening:
Setelah ibu hamil merasakan quickening, identitas keibuan yang jelas akan muncul. Ibu hamil akan fokus pada kehamilannya dan persiapan menghadapi peran baru sebagai seorang ibu. Perubahan ini bisa menyebabkan kesedihan meninggalkan peran lamanya sebelum kehamilan, terutama pada ibu yang mengalami hamil pertama kali dan wanita karir. Ibu harus diberikan pengertian bahwa ia tidak harus membuang segala peran yang ia terima sebelum kehamilannya. Pada wanita multigravida, peran baru artinya bagaimana ia menjelaskan hubungan dengan anaknya yang lain dan bagaimana bila nanti ia harus meninggalkan rumahnya untuk sementara pada proses persalinan.
Pergerakan bayi yang dirasakan membantu ibu membangun konsep bahwa bayinya adalah individu yang terpisah dari dirinya. Hal ini menyebabkan perubahan fokus pada bayinya. Pada saat ini, jenis kelamin bayi tidak begitu dipikirkan karena perhatian utama adalah kesejahteraan janin (kecuali beberapa suku yang menganut sistem patrilineal/matrilineal).
2. Menjaga Agar Ikatan Tetap Kuat
Ketika kehamilan telah terlihat, ibu dan pasangannya harus lebih sensitif terhadap pengaruh kondisi ini pada mereka berdua. Ibu hamil sering merasa takut jika pasangannya mendapati dirinya tidak menarik atau gendut, tapi masalah yang muncul lebih rumit lagi. Komunikasi adalah kunci untuk menghadapi masalah ini. Tetap cara ini dapat digunakan bila ibu dan pasangannya tetap terbuka dan memulainya sedini dan sesering mungkin. Bila salah satu tidak membicarakan latar belakang masalah yang dirasakan, atau setelah berdiskusi justru merasa depresi, saat itulah diperlukan penasihat kehamilan dan orang sekitarnya yang dapat menolong ibu dan pasangannya.
3. Menjaga Kehamilan yang Sehat
Ibu hamil mungkin merasa lebih baik pada trimester kedua, tapi bukan berarti bagian luar yang berubah, bagian dalam tubuh pun mengalami perubahan sebagai respon terhadap kehamilan yang terus berkembang. Beberapa perubahan dapat saja terasa mengganggu, namun ada juga perubahan yang terasa menyenangkan bagi ibu hamil. Perubahan yang menyebabkan ketidaknyamanan adalah keadaan yang normal bagi ibu hamil dan ibu harus diberikan pengertian terhadap kondisi tersebut sehingga ia lebih merasa nyaman lagi. Beberapa perubahan yang menyenangkan seperti rasa mual berkurang dibandingkan yang dialami selama trimester kedua, energi bertambah dan peningkatan libido.
4. Reaksi Orang-Orang di Sekitar Ibu Hamil
Tampaknya sang suami juga mengalami perubahan psikologis seiring perubahan uyang dialami istrinya yang hamil. Pada suatu studi dilaporkan sang suami juga merasakan perubahan nafsu makan, perubahan berat badan, rasa sakit kepala hingga kecemasan dan ketakutan dirasakan oleh suami yang istrinya sedang hamil. Saat ini suami lebih aktif ikut menangani dalam kehamilan istrinya dan turut merasakan tanggung jawab akan kelahiran bayinya.
Apabila di dalam keluarga terdapat anak sebelumnya, ia akan merasa bingung akan perubahan yang dialami ibunya. Anak perlu diberikan pengertian secara sederhana tentang perubahan yang terjadi dan hal yang akan dihadapi sehubungan dengan kehamilan. Ibu dari wanita hamil tampaknya adalah orang yang sering mengambil peran yang cukup besar selama kehamilan. Ibu hamil tampaknya merasa tergantung akan bantuan dari ibunya dalam menghadapi kehamilan dan persiapan penerimaan bayi yang akan dilahirkan
5.      Berhubungan Seks
Ada satu lagi perubahan yang terjadi pada trimestre kedua yang harus diimbangi untuk mengatasi ketidaknyamanan: suatu peningkatan libido yang pada trimestre pertama dihilangkan oleh rasa mual dan lelah. Kebanyakan calon orang tua khawatir jika habungan seks dapat mempengaruhi kehamilan. kekhawatiran yang paling sering diajukan adalah kemungkinan bayi diciderai oleh penis, orgasme ibunya, atau ejakulasi. Ibu hamil dan pasangannya perlu dijelaskna bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hubungan seks. Janin tidak akan terpengaruh karena berada di belakan serviks dan dilindungi cairan amniotik dalam uterus. Namun dalam beberapa kondisi hubungan seks selama trimester kedua tidak diperbolehkan, mencakup plasenta previa dan ibu dengan riwayat persalinan prematur. Selain itu meknisme fisik untuk saling merapat dalam hubungan seksual akan menjadi sulit dan kurang nyaman, misalnya berbaring terlentang dan menahan berat badan suami. Namun dengan mengkreasi posisi yang menyenangkan maka masalah ini dapat diatasi.
Walaupun sebagian ibu hamil merasaka seks selama hamil terasa meningkat, tidak semua libido wanita meroket tinggi pada trimester kedua. Perubahan tingkat libido disebabkan variasi perubahan hormon selama hamil. Karena respon terhadap hormon berbeda, reaksi masing-masing ibu hamil pun berbeda
2.2 Support Keluarga
Dukungan selama masa kehamilan sangat dibutuhkan bagi seorang wanita yang sedang hamil, terutama dari orang terdekat apalagi bagi ibu yang baru pertama kali hamil. Seorang wanita akan merasa tenang dan nyaman dengan adanya dukungan dan perhatian dari orang – orang terdekat.
1.      Suami
*      Ayah seringkali kelihatan standart sebagai pengamat istrinya yang hamil. Ia diperlukan waktu konsepsi, membayar biaya, dan menyiapkan penuntun untuk matangnya anak. Sekarang pandangan tersebut telah berubah dan seorang ayh sekarang diharapkan berperan secara penuh merawat, terlibat sebagai ayah, dan pemberi nafkah sebagai respon tekanan masyarakat. Pengaruh dari perubahan feminism dan tekanan ekonomi menyebabkan lebih banyak perempuan bekerja di luar rumah dan bebagi peran sebagai orang tua. Kemudian sudah banyak laki-laki lebih terlibat dalam melahirkan dan sebagai orang tua. Pada pria terjadi perasaan menolak. Perasaan ini yang tergantung dari banyak factor misalnya apakh kehamilan itu direncanakan, bagaimana hubungan laki-laki tersebut dengan istrinya/pasanganya, pengalaman sebelumnya dengan kehamilan, umur dan kestabilan ekonominya.
*      Peran ayah berkembang sejalan dengan peran ibu. Secara umum, ayah yang stress Menyukai anak-anak, senang berperan sebagai ayah, dan senang mengasuh anak, percaya diri dan mampu menjadi ayah, membagi pengalaman tentag kehamilan dan melahirkan dengan pasangannya.
*      Peran ayah pada saat ini masih samar-samar, tetapi keterbatasannya meningkat dengan melihat dan merasakan gerakan fetus
*      Ayah menjadi lebih nyaman dengan peran yang baru. Dengan melihat anaknya pada USG adalah pengalaman yang penting dalam menerima kenyataan bahwa istrinya hamil.
*      Seorang ayah ingin meniru atau membuang perilaku sebagai ayah sesuai keinginannya. Bisa juga timbul konflik pada pasangan tentang bagaimana menjadi ayah. Dalam peran ayah sebagai pencar nafkah yang oleh istrinya ditambah dengan terlibat secara aktif dalam mempersiapkan perawatan anak, maka stressnya akan meningkat. Untuk itu perlu persetujuan bersama untuk pembagian peran. Di satu sisi ibu ingin dominana, di sisi lain ayah ingin lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja, melakukan hobinya atau dengan teman-temanya.
*      Dukungan dan peran serta suami dalam masa kehamilan terbukti meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi kehamilan dan proses persalinan, bahkan juga memicu produksi ASI. Suami sebagai seorang yang paling dekat, dianggap paling tahu kebutuhan istri. Saat hamil wanita mengalami perubahan baik fisik maupun mental. Tugas penting suami yaitu memberikan perhatian dan membina hubungan baik dengan istri, sehingga istri mengkonsultasikan setiap saat dan setiap masalah yang dialaminya dalam menghadapi kesulitan-kesulitan selama mengalami kehamilan.
*      Keterlibatan suami sejak awal masa kehamilan, sudah pasti akan mempermudah dan meringankan pasangan dalam menjalani dan mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya akibat hadirnya sesosok “manusia mungil” di dalam perutnya. Bahkan, keikutsertaan suami secara aktif dalam masa kehamilan, menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam artikel berjudul “What Your Partner Might Need From You During Pregnancy” terbitan Allina Hospitals & Clinics (tahun 2001), Amerika Serikat, keberhasilan seorang istri dalam mencukupi kebutuhan ASI untuk si bayi kelak sangat ditentukan oleh seberapa besar peran dan keterlibatan suami dalam masa-masa kehamilannya.
*      Saat hamil merupakan saat yang sensitif bagi seorang wanita, jadi sebisa mungkin seorang suami memberikan suasana yang mendukung perasaan istri, misalnya dengan mengajak istri jalan-jalan ringan, menemahi istri ke dokter untuk memeriksakan kehamilannya serta tidak membuat masalah dalam komunikasi. Diperoleh tidaknya dukungan suami tergantung dari keintiman hubungan, ada tidaknya komunikasi yang bermakna, dan ada tidaknya masalah atau kekhawatiran akan bayinya.
*      Menurut penelitian di Indonesia
Dukungan suami yang diharapkan istri:
·         Suami sangat mendambakan bayi dalam kandungan istri
·          Suami senang mendapat keturunan
·         Suami menunjukkan kebahagian pada kehamilan ini
·         Suami memperhatikan kesehatan istri yakni menanyakan keadaan istri/janin yang dikandung
·         Suami tidak menyakiti istri
·         Suami menghibur/ menenangkan ketika ada masalah yang dihadapi istri
·         Suami menasihati istri agar istri tidak terlalu capek bekerja
·         Suami membantu tugas istri
·         Suami berdoa untuk kesehatan istrinya dan keselamatannya
·         Suami menungu ketika istri melahirkan
·         Suami menunggu ketika istri di operasi
2. Keluarga
Lingkungan keluarga yang harmonis ataupun lingkungan tempat tinggal yang kondusif sangat berpengaruh terhadap keadaan emosi ibu hamil. Wanita hamil sering kali mempunyai ketergantungan terhadap orang lain disekitarnya terutama pada ibu primigravida. Keluarga harus menjadi bagian dalam mempersiapkan pasangan menjadi orang tua.
Dukungan Keluarga Dapat Berbentuk :
- Ayah – ibu kandung maupun mertua sangat mendukung kehamilan ini
      Dengan adanya kehamilan hubungan pasangan suami istri dengan orang tuanya menjadi lebih dekat. Kakek atau nenek kadang-kadang merasa tidak pasti seberapa boleh mereka terlibat, seberapa ingin membantu, memberi nasehat atau hadiah. Bagi kakek atau nenek yang masih muda bisa terlibat membantu bekerja atau kegiatan lain. Bagi kakek atau nenek peran mereka juga berubah dalam kehidupannya, seperti sudah pensiun, keuangan, menopause, kematian teman dan lain-lain yang bisa menimbulkan konflik dalam struktur perubahan keluarga karena pasangan yang hamil tersebut juga ingin merasakan dan mengontrol situasi baru mereka sendiri. Penting bagi pasangan yang masih muda untuk mendengarkan perbedaan yang ingin di jelaskan oleh orang tuanya. Biasanya pasangan muda merasakan menerima nasehat yang berlebihan, yang kadang-kadang bia mereka anggap sebagai kritik atas asuhan mereka kepada bayi baru lahir. Sebaiknya pasangan muda mendiskusikan masalah-masalah mereka dan menyetujui perencanaannya.
- Ayah – ibu kandung maupun mertua sering berkunjung dalam periode ini
      Peran dari bantuan kakek/nenek ketika bayi di bawa pulang harus sering dan perlu di perjelas untuk memberikan situasi yang nyaman dirumah. Kadang-kadang diperlukan pendidikan dalam kelas bagi kakek/nenek agar bisa memberi nasehat atau dukungan kepada orang tua baru.
- Seluruh keluarga berdoa untuk keselamatan ibu dan bayi
- Adanya ritual adat istiadat yang memberikan arti tersendiri yang tidak boleh ditinggalkan.
2.3 SUPPORT DARI TENAGA KESEHATAN
Tenaga kesehatan dapat memberikan peranannnya melalui dukungan :
Aktif : melalui kelas antenatal
Pasif : dengan memberikan kesempatan kepada ibu hamil yang mengalami masalah untuk berkonsultasi.
Tenaga kesehatan harus mampu mengenali tentang keadaan yang ada disekitar ibu hamil atau pasca bersalin, yaitu:bapak, kakak, dan pengunjung.
Bidan harus memahami berbagai perubahan psikologis yang terjadi pada ibu hamil untuk setiap trimester agar asuhan yang diberikan tepat sesuai kebutuhan ibu. Hal ini diperlukan ketelitian dan kehati-hatian bidan untuk mengkaji /menilai kondisi psikologi seorang wanita hamil tidak hanya aspek fisik saja. Memfasilitasi wanita agar mau terbuka berkomunikasi baik dengan suami, keluarga ataupun bidan.
Dukungan psikososial selama kehamilan telah menunjukkan secara signifikan dapat meningkatkan kesejateraan emosi. Dukungan psikososial dalam hal ini, (Cobb, 1976) mendefinisikan dukungan psikososial sebagai informasi yang membawa seseorang untuk mempercayai bahwa dirinya diperhatikan, dicintai dihargai. Menurut Schumaker dan Brownell (1984) dukungan psikososial adalah pertukaran sumber informasi antara minimal 2 individu, yang terdiri dari provider dan resipien dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan resipien.
Dukungan psikososial ini akan melingdungi/mengurangi efek negatif dari faktor resiko psikososial, Clupepper, Jack (1993) membagi resiko psikososial menjadi 3 yaitu : karakteristik sosial/demografi : usia tua, muda, kurang pendidikan, rumah yang tidak layak huni: faktor psikoligis :stress. Gelisah dengan riwayat /sedang mengalami gangguan psikologis dan kebiasaan hidup yang merugikan kesehatan : merokok, suka mabuk, pemakaian obat-obatan, obesitas, terlalu kurus.
Adapun jenis dukungan psikososial yang dapat diberikan berupa esteem support (dukungan untuk meningkatkan kepercayaan diri), informational support, tangible support (sarana fisik) dan perkumpulan sosial. Power et al (1988) membagi dukungan sosial menjadi 2 :
1. Emosional support : semua yang dapat meyakinkan/menjamin kedekatan dan pengetahuan bahwa dia dicintai, diperhatikan dan deterima serta nasihat, saran yang diberikan dapat dapat menimbulkan kepercayaan diri.
2. Practical support : meliputi semua aspek bantuan yang bertujuan membentuk individu dari sebuah masalah berupa kegiatan fisik (action) seperti meminjamkan uang, membantu tugasnya yang tidak bisa dikerjakan sendiri.
Bidan harus mampu mengidentifikasi sumber dukungan yang ada disekitar ibu, mempelajari keadaan lingkungan ibu, keluarga, ekonomi, pekerjaan sehari-hari. Perlu dipahami bahwa sumberdukungan psikososial yang paling besar pengaruhnya pada individu adalah orang yang terdekat bagi mereka seperti pasangan, teman baik, kerabat.
2.4 RASA AMAN DAN NYAMAN
Peran keluarga khususnya suami, sangat diperlukan bagi seorang wanita hamil. keterlibatan dan dukungan yang diberikan suami kepada kehamilan akan mempererat hubungan antara ayah anak dan suami istri. Dukungan yang diperoleh oleh ibu hamil akan membuatnya lebih tenang dan nyaman dalam kehamilannya.
 Hal ini akan memberikan kehamilan yang sehat. Dukungan yang dapat diberikan oleh suami misalnya dengan mengantar ibu memeriksakan kehamilan, memenuhi keinginan ibu hamil yang ngidam, mengingatkan minum tablet besi, maupun membantu ibu malakukan kegiatan rumah tangga selama ibu hamil. Walaupun suami melakukan hal kecil namun mempunyai makna yang tinggi dalam meningkatkan keadaan psikologis ibu hamil ke arah yang lebih baik.
2.5 PERSIAPAN MENJADI ORANG TUA
Seorang ibu yang hidup bahagia pada lazimnya dapat merasakan kepuasan dankebahagiaan ketika ia hamil. Ia bangga akan keadaan dirinya serta kesuburannya dan sangat bergairah menyambut bayinya yang akan lahir
Jika kehamilan tersebut merupakan peristiwa yang pertama kali maka, besar kemunginannya bahwa calon ibu itu akan mengembangkan mekanisme kepuasan dan kebanggaan karena ia merasa mampu menjalanklan tugas kewajiban sebagai wanita normal dan sebagai penerus generasi. Dengan sabar dan seksama ia mempersiapkan diri menghadapi satu fase kehidupan baru dan tugas-tugas baru sebagai seorang ibu muda. Namun demikian sekalipun seorang wanita itu berhasrat benar untuk menjadi ibu yang cukup realistis disertai sikap hidup yang sehat terhadap diri sendiri dan orang lain, kehamlan itu merupakan satu ujian berat baginya dan menimbulkan ketakutan-ketakutan tertentu. Lebih-lebih lagi jika dalam lubuk hatinya ia sebenarnya menolak untuk menjadi ibu. Dengan demikian ia juga menolak kehamilannya. Disamping itu kehamilan juga bisa menambah intensitas kebahagian jika terdapat relasi yang baik antara wanita dengan suaminya. Sebaliknya kehamilan juga bisa memperkuat dan memperberat beban kesulitan batin jika diantara suami dan istri sudah terdap[at konflik-konflik. Selanjutnya semakin mampu seseorang secara sadar menerima hakekat dirinya sebagai suami istri atau sebagai laki-laki dan wanita yang sanggup menanggung segala konsekuensi serta pertanggungjawabannya maka semakin hangatlah kedua orang suami istri itu akan menyambut kehamilan dan menerima bayinya yang akan dilahirkan meskipun peristiwa kelahiran itu dibungai oleh macam-macam kecemasan serta penderitaan fisik dan batin pada calon ibu.

Kehamilan dan peran sebagai orang tua dapat dianggap sebagai masa transisi atau peralihan. Terlihat adanya peralihan yang sangat besar akibat kelahiran dan peran yang baru, serta ketidak pastian yang terjadi sampai peran yang baru ini dapat disatukan dengan anggota keluarga yang baru.
*           Peran orang tua sebagai proses peralihan yang berkelanjutan :
Peralihan menjadi orang tua merupakan suatu proses dan bukan suatu keadaan statis
 Berawal dari kehamilan dan merupakan kewajiban menjadi orang tua dimulai
*         Peran orang tua sebagai krisis dibandingkan sebagai masa peralihan :
Perubahan ini dianggap suatu krisis apabila sangat hebat, sangat mengganggu dan merupakan perubahan negative.
Perubahan kebiasaan yang mengganggu seperti:
·         Perubahan kehidupan seksual
·         Pola tidur dan lain - lain
*Hal- hal yang perlu diperhatikan terhadap kehadiran dari bayi baru lahir adalah:
·         Temperamen
·          Cara pasangan mengartikan stres dan bantuanBagaimana mereka berkomunikasi dan mengubah peran sosial mereka
*Peralihan menjadi orang tua
Fase Penantian:
1. Berkaitan dampaknya pada kehamilan
2. Calon orang tua perlu menyelesaikan tugasnya untuk menjadi orang tua, misalnya : pembagian tugas dalam keluarga
3. Pasangan dalam fase ini akan mengalami perasaan yang hebat, tantangan, dan tanggung jawab.
Fase bulan madu
1. Sangat berdampak pada masa puerpurium, perlu mendapat perhatian pada          askebnya
2. Bersifat psikis dan bukan merupakan saat damai dan gembira
3. Hubungan antar pasangan memiliki peran penting dalam membina           hubungan baru dengan bayi
4. Adaptasi dengan anggota baru merupakan fase yang berat




2.6 PERSIAPAN SIBLING
Saudara kandung perlu dipersiapkan terhadap kedatangan adiknya karena bisa menimbulkan perasaan bersaing (sibling rivalry). Sibling rilvaly timbul karena anak-anak taukut perhatian orang tianya berubah. Pencegahan kondisi ini dapat di lakukan dengan cara :
o   Anak diberi tahu sejak awal kehamilan
o   Anak toddler diberi kesempatan merasakan bayinya bergerak dalam rahim dan di jelaskan bahwa rahim adalah tempat khusus bayi tumbuh
o   Anak dapat membantu mengatur baju bayi di laci atau menyiapkan tempat tidur bayi dan kamar bayi
o   Bantu anak menyesuaikan diri pada perubahan ini
o   Kenalkan anak dengan bayi sehingga anak tidak membayangkan adiknya akan cukup besar untuk di ajak bermain
o   Mengajak anak ketempat periksa hamil, diberi kesempatan mendengarkan denyut jantung janin
Bila saudara kandung sudah sekolah maka kehamilan akan merupakan urusan keluarga. Pengajaran tentang kehamilan didasarkan pada tingkat pengertian anak. Bisa di siapkan buku-buku dirumah, termasuk merasakan gerakan anak, mendengar bunyi jantung janin. Biarkan ia hadir waktu melahirkan. Persiapan saudara kandung perlu menerima bayi baru dengan memberi cukup perhatian oleh orang tuanya agar ia tidak berperilaku regresif atau agresif.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Trimester kedua kehamilan biasanya merupakan saat yang paling nyaman dan masa peningkatan pengalaman yang menggembirakan selama hamil. Periode ini juga berhubungan dengan bagaimana ibu hamil mempersiapkan bagaimana kehidupan yang akan dialaminya setelah bayi lahir. Segala sesuatu mungkin terjadi pada trimester kedua, dan ibu hamil sangat membutuhkan bantuan dan dorongan dari keluarga, tenaga kesehatan, perlunya rasa aman dan nyaman, persiapan menjadi orang tua dan persiapan sibling untuk melewatinya dengan menyenangkan dan sehat bagi dirinya dan bayi yang dikandungnya.

3.2 Saran
Setiap ibu hamil memerlukan dukungan dari seluruh pihak baik suami atau pasangan yang perlu memberikan perhatian ekstra pada ibu hamil, dari keluarga perlu memberi nasihat-nasihat yang berguna bagi keselamatang kehamilan, serta dari tenaga kesehatan agar memberikan pelayanan antenatal care  yang tepat dan berkelanjutan.
Daftar Pustaka

Salmah,dkk.2006.Asuhan Kebidanan Antenatal.jakarta:EGC
Kartono,Kartini.1992.Psikologi Wanita jilid 2.Bandung:mandar maju



0 komentar: