Selasa, 14 Mei 2013

sekelumit KTI

KTI atau Karya Tulis Ilmiah, merupakan tugas wajib mahasiswa tingkat akhir termasuk d kampus tercintaku ini. Yang konon katanya KTI ini membuat beberapa mahasiswa galau, nangis, sampai frustasi. Awal kuliah semester 5 kita dapat materi perkuliahan tentang metodologi penelitian dan statistika, dan yang nantinya ini menjadi pondasi dalam penyusunan KTI itu sendiri. Dalam Pelajaran metodologi penelitian kita sudah harus bisa menetuan judul KTI dan tentu juga sudah di ajari bagaimana cara menyusun proposal. Entah mengapa, pada saat itu aku ingin sekali ingin mempelajari tentang psikologi remaja. Jadilah aku berfikir kira-kira tentang apa ya?. Pada waktu itu saran dosen adalah KTI yang kita buat haruslah yang  berhubungan dengan kesehatan, terutama peran kita sebagai bidan. Tapi tak ingin jauh-jauh dari psikologi, jadilah aku ingin mengambil tentang psikologi remaja dan kesehatan reproduksinya. Awalnya sih ingin ngambil di SMA atau SMP, tapi sepertinya kurang menantang begitu. sampai pada suatu hari, ada dosen yang mengajar statistika menceritakan bahwa beliau salut dengan seorang kakak tingkat yang berani mengamil penelitian di anak jalanan, kalau tidak salah kakak tingkat itu mengambil tentang pengalaman seksual anak jalanan khususnya remaja di daerah kota lama. Entah, merasa terinspirasi atau apa, akhirnya setelah perkuliahan itu aku langsung meghubungi kakak tingkat tersebut dan mulai meminta saran. kemudian kakak tingkat tersebut memberi contact ke bapak yang menjadi ketua di komunitas anak jalanan tersebut. Aku berusaha terus menggali informasi yang berkaitan dengan anak jalanan dan fenomena macam apa yang ada di dalamnya. sampai pada akhirnya di akhir semester 5  kita di suruh mengajukan judul ke panitia penyeleksi judul KTI. Dengan penuh keyakinan aku mengajukan judul yang sudah ku fikirkan berminggu2 ini,yakni "Pengaruh pengetahuan kesehatan reproduksi remaja terhadap perilaku seksual". Setelah menunggu 1 bulan akhirnya pengumuman, dan ternyata judul yang sudah ku banggakan itu di tolak. Puyeng, tentulah!!! 1 minggu berselang, ada pengumuman pembimbing KTI dan ternyata pembimbing ku adalah dosen yang menceritakan penelitian kakak tingkat tentang anak jalanan tadi. Akhirnya ku beranikan diri untuk menemui dosen tersebut dan ku ceritakan bahwa judul ku di tolak dan beliau menyarankanku untuk menggali lagi permasalahn lain yang ada di anak jalanan. Jadilah setelah pertemuan pertama dengan pembimbing tadi aku mencoba berjalan di sekitar malang mengelilingi daerah yang biasanya menjadi tempat pengkalan anak jalanan, hingga sore hari aku tak menegmukan ide jua. Keesokan harinya, ada seorang teman yang kuliah di universitas Brawijaya mengajakku keluar dan akhirnya ngobrol lama dan dia memberitahu bahwa dosennya pernah mengatakan tentang sebuah komunitas yang terdiri dari beberapa remaja yang kerap berkumpul di daerah malang dan ketika berkumpul biasanya mereka melakukan free sex (hubungan seksual). Aku semakin tertarik, karena selain ini menantang juga tentu berkaitan dengan kesehatan reproduksi. setelah itu rasanya ingin sekali aku berkunjung ke komunitas itu dan membuktikan kebenarannya, tapi dengan keras temenku tadi melarang. Dengan alasan terlalu berbahaya, jadilah aku mengurungkan niatku untuk sementara waktu. Yang ku lakukan setelah itu hanyalah browsing internet berharap untuk mendapatkan berita yang dapat mendukung fakta tadi. Ternyata memang benar, bukan hanya di Malang tetapi di beberapa kota besar lainnya memang terjadi kasus seperti itu. Banyak hal yang ku lakukan sebelum akhirnya memutuskan mengambil penelitian tentang komunitas ini. Dari informasi polisi setempat, dosen yang pernah meneliti komunitas ini, dan beberapa orang yang mengetahuinya. Dan alhamdulillah akhirnya judulku ini di acc pembimbing, sekarang sudah selesai penelitian, dan kemaren adalah hari pertamaku konsul bab IV yang merupakan initi sari dari hasil penelitianku ini. Ya semoga saja nantinya penelitian ini bermanfaat, dan dapat dijadikan acuan bagi dinas terkait untuk peduli dengan komunitas ini dan pada akhirnya pola free sex ini akan terputus mata rantainya. :)

0 komentar: