Kamis, 03 Januari 2013

ASKEB PNC dengan HPP


 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Konsep Teori Nifas
1.      Pengertian
a.       Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali seperti pra hamil yang dimulai setelah partus selesai atau sampai kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandungan pulih kembali seperti semula. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
(Sarwono, 2008:237)
b.      Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu.
(Siti Saleha, 2009:4)

2.      Tahap Masa Nifas
a.       Periode Immediate Postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri. Oleh karena itu, bidan dengan teratur harus melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran loche, tekanan darah, dan suhu.
b.      Periode Early Postpartum (24 jam-1 minggu)
Pada fase ini bidan memastikan involusi uetri dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lochea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
c.       Periose Late Postpartum (1 minggu-5 minggu)
Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB.
(Siti Saleha, 2009:4)





3.      Kunjungan Masa Nifas
Kunjungan
Waktu
Tujuan
1
6-8 jam setelah persalinan
a.       Mencegah terjadinya perdarahan masa nifas
b.      Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan memberi rujukan bila perdarahan berlanjut.
c.       Memberikan konseling kepada ibu atau keluarga salah satu anggota keluarga mengenai bagaimana mencegah perdarahan pada masa nifas karena atonia uetri.
d.      Pemberian ASI pada masa awal menjadi ibu.
e.       Mengajarkan cara mempererat hubunagn antara ibu dan bayi baru lahir.
f.       Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia.
Jika bidan menolong persalinan, maka bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi dalam keadaan stabil.

2
6 hari setelah persalinan
a.       Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus tidak ada perdarahan abnormal dan tidak bau.
b.      Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau kelainan pasca melahirkan.
c.       Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda penyulit.
d.      Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi, cara merawat tali pusat, dan menjaga agar bayi tetap hangat.
3
2 minggu setelah persalinan
a.       Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal dan bau.
b.      Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau kelainan pasaca melahirkan.
c.       Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda penyulit.
d.      Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi, cara  merawat tali pusat, dan menjaga bagaimana bayi tetap hangat.
4
6 minggu setelah persalinan
a.       Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang dialami ibu dan bayinya.
b.      Memberikan konseling KB secara dini.
(Siti Saleha, 2009:6)
4.      Perubahan fisiologis Ibu Nifas
A.    Perubahan Sistem Reproduksi
1.      Uterus
a.       Involusi
Proses involusi :
·         Autolysis
-          Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi dalam otot uterin.
-          Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula, dan 5 kali lebarnya dari semula.
-          Sel – sel yang terbentuk selama kehamilan akan menetap, inilah penyebab ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil.
·         Terdapat polymorph phagolitik dan macrophages di dalam sistem vaskuler dan sistem limpatik.
·         Efek oksitosin
-          Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga sebagai respon terhadap penurunan volume intra uterin yang sangat besar.
-          Hemostasis pasca partum di capai terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan bekuan.
-          Hormon oksitosin yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh darah dan membantu hemostasis.
-          Selama 1-2 jam pertama intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Ibu yang merencanakan menyusui bayinya, dianjurkan membiarkan bayinya di payudara segera setelah lahir karena isapan bayi pada payudara merangsang pelepasan oksitosin.
Perubahan normal di dalam uterus selama postpartum :
                                                   Bobot uterus               Diameter uterus
Pada akhir persalinan     à        900 gram         à        12,5 cm
Pada akhir minggu ke 1 à        450 gram         à        7,5 cm
Pada akhir minggu ke 2 à        200 gram         à        5,0 gram
Sesudah akhir 6 minggu à        60 gram           à        2,5 cm

Tinggi fundus uteri pada masa nifas :
Akhir persalinan             → 2 jari di bawah pusat
Akhir minggu ke 1           pertengahan pusat – simfisis
Akhir minggu ke 2           tidak teraba di atas simfisis
Sesudah 6 minggu            bertambah kecil
b.      lochea
adalah eksresi cairan rahim selama masa nifas.
Perubahan lochea :
·         Lochea rubra (kruenta)
-          Keluar hari pertama sampai hari ke-4 masa postpartum
-          Berwarna merah, mengandung darah dari perobekan/ luka plasenta dan serabut dari desidua dan chorion.
·         Lochea serosa
-          Keluar pada hari ke-5 sampai  hari ke-9
-          Berwarna kecoklatan, mengandung lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga terdiri dari leukosit dan robekan atau laseerasi plasenta.
·         Lochea alba
-          Keluar sekitar hari ke-10 dan hilang sekitar 2-4 minggu
-          Berwarna lebih pucat, putih kekuningan, mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.
2.      vagina dan perineum
·         Segera setelah persalinan terjadi edema dan memar. Vagina dan muara vagina membentuk suatu lorong luas berdinding licin yang berangsur-angsur mengecil ukurannya.
·         Setelah 1-2 hari postpartum tonus otot vagina kembali celah vagina lebij besar dan tidak edema. Vagina berdinding lunak, lebih besar dan umumnya longgar.
·         Ukuran menurun dengan kembalinya rugae vagina sekitar minggu ketiga pasca partum. Akan tetapi, latihan pengencangan otot perineum akan mengembalikan tonusnya dan memungkinkan wanita secara perlahan mengencangkan vaginanya. Pengencangan ini sempurna pada akhir puerperium dengan latihan setiap hari.
3.      laktasi
Produksi ASI masih dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yang selalu dalam keadaan tertekan, sedih, kurang percaya diri dan berbagai ketegangan emosional akan menurunkan volume ASI bahkan tidak terjadi produksi ASI. Ibu yang sedang menyusui juga jangan terlalu banyak dibebani urusan pekerjaan rumah tangga, urusan kantor dan lainnya karena hal ini juga dapat mempengaruhi produksi ASI. Dua refleks pada ibu sewaktu menyusui adalah refleks prolaktin dan refleks letdown (refleks aliran).
1.      Refleks Prolaktin
Sewaktu bayi menyusu, ujung saraf peraba yang terdapat pada putting susu terangsang. Rangsangan tersebut oleh serabut afferent dibawa ke hipotalamus di dasar otak, lalu memacu hipofise anterior, untuk mengeluarkan hormone prolaktin ke dalam darah. Melalui sirkulasi prolaktin memacu sel kelenjar (alveoli) untuk memproduksi air susu. Jumlah prolaktin yang disekresi dan jumlah susu yang diproduksi berkaitan dengan stimulasi isapan, yaitu frekuensi, intensitas, dan lama bayi menghisap.
2.      Refleks Let-down (refleks aliran)
Rangsangan yang ditimbulkan oleh bayi saat menyusu selain hipofise anterior mengeluarkan hormone prolaktin juga mempengaruhi hipofise posterior mengeluarkan hormone oksitosin. Dimana setelah oksitosin dilepas ke dalam darah akan memacu otot-otot polos yang mengelilingi alveoli dan duktulus berkontraksi sehingga memeras air susu dari alveoli, duktulus, dan sinus menuju putting susu.
Refleks let-down dapat dirasakan sebagai sensasi kesemutan atau dapat juga ibu tidak merasakan sensasi apapun. Tanda-tanda lain dari let-down adalah tetesan pada payudara lain yang tidak sedang dihisap oleh bayi. Refleks ini dipengaruhi oleh kejiwaan ibu.

B.     Perubahan Sistem Pencernaan
Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat penncernaan mendapat tekanan yang menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi), krang makan, haemoroid, laserasi jalan lahir.
Supaya buang air besar kembali teratur dapat diberikan diet/ makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup.  Bila usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong dengan pemberian huknah atau glyserin spuit atau diberikan obat yang lain.

C.     Perubahan Sistem Perkemihan
Trauma bisa terjadi pada uretra dan kandung kemih selama proses melahirkan, yakni sewaktu bayi melewati  jalan lahir. Kombinasi trauma akibat keelahiran, peningkatan kapasitas kandung kemih setelah bayi lahir, dan efek anastesi menyebabkan keinginan untuk berkemih menurun. Selain itu untuk rasa nyeri pada panggul yang timbul akibat dorongan saat melahirkan, laserasi vagina, dan episiotomy menurunkan atau mengubah reflex berkemih.

D.    Perubahan Sitem Musculoskeletal
Dinding abdomen lunak setelah kelahiran karena dinding ini meregang selama kehamilan. Semua wanita setelah melahirkan mengalami beberapa derajat diastasis recti (pemisahan otot rectus abdomen). Seberapa berat diastasis tergantung pada sejumlah faktor  :
§  Paritas (pengembalian tonus otot yang sempurna akan semakin sulit jika paritasnya tinggi)
§  Jarak kehamilan (apakah wanita mempunyai waktu untuk mengembalikan tonus ototnya sebelum hamil lagi)

E.     Perubahan Sistem Endikrin
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem endokrin. Hormon-hormon yang berperan pada proses tersebut, antara lain :
1.      Hormone plasenta
Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan hormon yang diproduksi oleh plasenta. Hormone plasenta menurun dengan cepat pasca persalinan. Penurunan hormone plasenta  (human placental lactogen) menyebabkan kadar gula darah menurun pada masa nifas. Human Chorionic  Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 postpartum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke-3 postpartum.
2.      Hormone pituitary
Hormone pituitary antara lain : hormone prolaktin, FSH dan LH. Hormone prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. Hormone prolaktin berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu ke-3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
3.      Hipotalamik pituitary ovarium
Hipotalamik pituitary ovarium akan mempengaruhi lamanya mendapatkan menstruasi pada wanita yang menyusui maupun yang tidak menyusui. Pada wanita menyusui mendapatkan menstruasi pada 6 minggu pasca melahirkan berkisar 16 % dan 45 % setelah 12 minggu pasca melahirkan. Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui, akan mendapat menstruasi  berkisar 40 % setelah 6 minggu pasca melahirkan dan 90 % setelah 24 minggu. 
4.      Hormone oksitosin
Hormone oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang, bekerja terhadapa otot uterus dan jaringan payudara. Selama tahap ketiga persalinan, hormone oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta serta mempertahankan kontraksi, sehingga dapat mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin, sehingga dapat mmembantu involusi uteri.


5.      Hormone estrogen dan progesterone
Hormone estrogen yang tinggi memperbesar hormone anti diuretic sehingga dapat meningkatkan volume darah. Sedangkan hormone progesterone dapat mempengaruhi otot halus sehingga mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum dan vulva serta vagina.

F.      Perubahan Tanda-Tanda Vital
Pada masa nifas, tanda – tanda vital yang harus dikaji antara lain :
1.      Suhu tubuh
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 oC. pasca meelahirkan, suhu tubuh dapat naik kurang lebih 0,5 0C dari keadaan normal. Kenaikan suhu suhu badan in akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan maupun kelelahan. Kurang lebih pada hari ke-4 postpartum, suhu badan akan naik lagi. Hal ini diakibatkan ada pembentukan ASI, kemungkinan payudara membengkak, maupun kemungkinan infeksi pada endometrium, mastitis, traktus genetalis ataupun system lain. Apabila kenaikan suhu di atas 38 0C, waspada terhadap infeksi postpartum.
2.      Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali per menit. Pasca melahirkan, denyut nadi dapat menjadi bradikardi maupun lebih cepat. Denyut nadi yang melebihi 100x/ menit, harus waspada kemungkinan dehidrasi, infeksi atau perdarahan postpartum.
3.      Tekanan darah
Tekanan darah normal manusia adalah sistolik antara 90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah biasanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat disebabkan karena adanya perdarahan. Sedangkan tekanan darah menjadi tinggi pada postpartum merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi.
4.      Pernafasan
Frekuensi pernapasan normal pada orang dewasa adalah 16-24 x/ menit. Pada ibu postpartum umumnya pernapasan  lamabat atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran nafas. Bila pernafasan pada masa postpartum menjadi lebih cepat, kemungkinan ada tanda-tanda syok.

G.    Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Pasca melahirkan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan menimbulkan dekompensasi kordis pada penderita vitum cordia. Hal ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala. Pada umumnya, hal ini terjadi pada hari ketiga sampai kelima post partum.

H.    Perubahan Sistem Hematologi
Pada minggu-minggu akhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma serta factor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama postpartum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental peningkatan viskositas sehingga meningkatkan factor pembekuan darah. Leukositas adalah meningkatkatnya jumlah sel-sel darah putih sebanyak 15.000 selama persalinan. Jumlah leukosit akan tetap tinggi selama beberapa hari pertama masa postpartum. Jumlah sel darah putih akan tetap bisa naik lagi sampai 25.000 hingga 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama. Pada awal postpartum, jumlah hemoglobin, hematokrit dan eritrosit bervariasi. Hal ini disebabkan volume darah, volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah. Tingkatan ini dipengaruhi oleh status gizi dan hidarasi dari wanita tersebut. Penurunan volume darah dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari ke 3 sampai 7 postpartum dan akan kembali normal dalam waktu 4 sampai 5 minggu postpartum. Jumlah kehilangan darah selama masa persalinan kurang lebih 200-500ml, minggu pertama postpartum berkisar 500-800ml dan selama sisa masa nifas berkisar 500ml.  (Hellen Varney;2007)

5.      Adaptasi Psikologi Ibu Nifas
Adaptasi psikologis post partum menurut teori rubin dibagi dalam 3 periode yaitu sebagai berikut :
-          Periode Taking In
·         Berlangsung 1-2 hariu setelah melahirkan
·         Ibu pasif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, perlu menjaga komunikasi yang baik.
·         Ibu menjadi sangat tergantung pada orang lain, mengharapkan segala sesuatru kebutuhan dapat dipenuhi orang lain.
·         Perhatiannya tertuju pada kekhawatiran akan perubahan tubuhnya
·         Ibu mungkin akan bercerita tentang pengalamannya ketika melahirkan secara berulang-ulang
·          Diperlukan lingkungan yang kondusif agar ibu dapat tidur dengan tenang untuk memulihkan keadaan tubuhnya seperti sediakala. 
·         Nafsu makan bertambah sehingga dibutuhkan peningkatan nutrisi, dan kurangnya nafsu makan menandakan ketidaknormalan proses pemulihan
-          Periode Taking Hold
·         Berlangsung 3-10 hari setelah melahirkan
·         Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dalam merawat bayi
·         Ibu menjadi sangat sensitive, sehingga mudah tersinggung. Oleh karena itu, ibu membutuhkan sekali dukungan dari orang-orang terdekat
·         Saat ini merupakan saat yang baik bagi ibu untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya. Dengan begitu ibu dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya.
·         Pada periode ini ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, misalkan buang air kecil atau buang air besar, mulai belajar untuk mengubah posisi seperti duduk atau jalan, serta belajar tentang perawatan bagi diri dan bayinya
-          Periode Letting Go
·         Berlangsung 10 hari setelah melahirkan. 
·         Secara umum fase ini terjadi ketika ibu kembali ke rumah
·         Ibu menerima tanggung jawab sebagai ibu dan mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya
·         Keinginan untuk merawat bayi meningkat
·         Ada kalanya ibubmengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya, keadaan ini disebut baby blues.
( Herawati Mansur, 2009 : 154-155)

6.      Laktasi
Laktasi adalah proses pembentukan dan pengeluaran ASI. Faktor yang mempengaruhi proses laktasi      :
·         Reflek Prolaktin
Isapan dari mulut bayi akan merangsang ujung – ujung saraf sensoris. Rangsang ini dilanjutkan ke hipotalamus akan menekan faktor – faktor yang meningkatkan sekresi prolaktin. Sekresi akan merangsang adenohipofiseuntuk mengeluarkan prolaktin yang nantinya akan merangsang sel-sel alveoli untuk membuat susu.
·         Reflek Let Down
Reflek ini dihasilkan karena adanya isapan bayi yang akan merangsang hipofisis posterior mengeluarakan hormon oksitosin. Hormon ini akan membuat rahim berkontraksi sehingga mempengaruhi kontraksi. Sel-sel mioepitelium kontraksi dari sel-sel akan memeras air susu dari alveoli duktus laktiferus dan sinus laktiferus menuju papila mammae dan keluarlah air susu dari payudara.
 (Sarwono;2008:240)
·         Faktor-faktor yang mempengaruhi ASI antara lain sbb:
-        Frekuensi pemberian ASI
-        Isapan bayi
-        Faktor psikologis
-        Faktor nutrisi
-        Penggunaan obat – obatan
(Siti Saleha,2009:24)

7.      Perawatan Masa Puerperium
Pada masa post partum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur dan lingkungan sangat penting untuk dijaga.
Langkah – langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan diri ibu post partum adalah sebagai berikut :
1.      Anjurkan kebersihan seluruh tubuh, terutama perineum. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehati Ibu untuk membersihkan vulva dan anus setelah BAB/BAK.
-        Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
-        Sarankan ibu untuk mengganti pembalut setidaknya 2 kali dalam sehari. Kain dapat digunakan ulang jika dicuci dan dikeringkan dengan baik.
-        Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah tersebut.
2.      Diet gizi
Masalah diet perlu mendapatkan perhatian khusus karena dengan nutrisi yanng baik dapat mempercepat pennyembuhan ibu. Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein dan banyak mengandung cairan. Ibu menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi yaitu mengkonsumsi tambahan kalori sebanyak 500 kalori tiap hari, makan berdasarkan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein. Mineral dan vitamin yang cukup, minum sedikitnya 3 liter setiap hari, tablet besi harus diminum menambah gizi (min 40 hari pp), minum kapsul vitamian A 200.000 unit agar dapat memberikan vitamin A kepada bayi melalui ASI.
3.      Istirahat dan tidur
Hal – hal yang dapat dilakukan pada ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur adalah sebagai berikut      :
·         Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
·         Sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan rumah tangga secara perlahan – lahan, serta tidur siang selagi bayi tidur
·         Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal diantaranya:
Ø  Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
Ø  Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
Ø  Menyebabkan deppresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri
4.      Mobilisasi dini
Merupakan kengkin bidbijaksanaan agar secepat mungkin bidan membimbing ibu post partum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing secepat mungkin untuk berjalan. Keuntunngan mobilisasi dini yaitu ibu akan merasa lebih sehat dan kuat, faal usus dan kandung kemih baik, memungkinkan tenaga kesehatan untuk mengajarkan kepada ibu cara merawat anaknya selama di rumah sakit.
(Siti Saleha,2009:71)
5.      Miksi
Harus secepatnya dapat dilakukan sendiri 6 jam post partum harus sudah bisa kencing sendiri. Tidak jarang wanita tidak dapat kencing sendiri akibat pada partus muskulus sefingter vesika et uretra mengalami tekanan oleh kepala janin, sehingga fungsinya terganggu. Bila kandung kemih penuh dan wanita tersebut tidak dapat berkemih sendiri walaupun sudah dirangsang dengan gemericik suara air dari kran, kaki disiram dengan air, maka diperbolehkan untuk melakukan kateterisasi dengan memperhatikan jangan sampai terkena infeksi.
6.      Defekasi
Defekasi/ buang air besar harus sudah dalam 3 hari post partum. Bila ada obstipasi dan timbul koprostase hingga sekibala tertimbun di rectum, mungkin akan terjadi fibris.
7.      Perawatan payudara
·         Menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama puting susu
·         Menggunakan BH yang menyokong payudara
·         Apabila puting susu lecet, oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar papila setiap kali menyusu. Menjaga puting susu agar tidak lecet  juga dapat dilakukan dengan stimulasi puting susu
·         Apabila lecet sangat berat, dapat diistirahatkan selama 24 jam
(Sarwono,2008:242)




2.2 HPP (Haemorrogic Post Partum)
            1.      Pengertian
§  Perdarahan post partum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung.
(Manuaba, 1998: 295)
§  Perdarahan post partum adalah perdarahan pervaginam yang melebihi 500 ml setelah melahirkan.
 (Syaifuddin, 2002: M25)
         2.         Macam-macam perdarahan post partum
a.    Perdarahan post partum primer
Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utama adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir. Terbanyak dalam 2 jam pertama.
b.   Perdarahan post partum sekunder
Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama. Penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membrane.
(Manuaba,1998;295)
         3.         Faktor-faktor perdarahan post partum
§  Grande multipara
§  Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun
§  Persalinan yang dilakukan dengan tindakan, pertolongan kala uri sebelum waktunya, pertolongan oleh dukun, persalinan dengan tindakan paksa.
(Manuaba, 1998: 295)
§  Perdarahan pasca partus primer (dini)
Ø  Atonia uteri
Ø  Retensio plasenta
Ø  Plasenta rest
Ø  Trauma persalinan rupture uteri dan hematoma
Ø  Gangguan pembekuan darah
§  Perdarahan pasca perut sekunder
Ø  Plasenta rest dan tertinggalnya selaput ketuban.
Ø  Trauma persalinan, bekas SC-pembuluh darah terbuka
Ø  Infeksi menimbulkan sub involusi bekas implantasi plasenta.
         4.         Predisposisi
a.       Keadaan umum lemah-anemia
b.      Multiparitas
c.       Pasca tindakan operasi vaginal
d.      Distensi uterus berlebihan
§  Hidramnion
§  Hamil ganda
e.       Kelelahan ibu
§  Prolog labour
§  Neglebed labour
f.       Trauma persalinan
§  Robekan vagina dan perineum
§  Robekan serviks
§  Robekan vorniks
§  Robekan uterus
g.      Gangguan kontraksi : covulaire uteri
                                                                              (Manuaba,2001: 427)
         5.         Tatalaksana Penanganan
a.       Penanganan umum
§  Pemasangan infuse
§  Transfusi darah
§  Pemberian antibiotic
§  Pemberian uterotonika
b.      Pada robekan serviks vagina dan perineum, perdarahan dilatasi dan jalan menjahit
c.       Penanganan khusus
§  Atonia uteri
§  Retensio plasenta
·      Ruptura uteri    
·      Tidak terjadi infeksi
·      Tidak terjadi pendarahan
(Manuaba,2001:428)


C. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan

  1. Pengkajian Data
A.     `Data Subyektif
1.        Biodata
Umur : < 17 tahun/ > 35 tahun
2.        Alasan Kunjungan
Ingin melahirkan
    1. Keluhan Utama
Pusing dan perutnya terasa mules,perdarahan ± 500cc
    1. Riwayat Haid
Menarche        :                       HPHT  :
Siklus haid      :                       TP        :
Lama haid       :
Banyak haid    :
Keluhan haid   :
    1. Riwayat Pernikahan
Untuk mengetahui status pernikahan
    1. Riwayat Kesehatan yang Lalu
Untuk mengetahui status kesehatan yang pernah diderita klien
    1. Riwayat kesehatan sekarang
Keadaan ibu lemas,pusing dan perut terasa mules
    1. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pada saat bersalin ada/ tidak keluarga yang mengalami perdarahan setelah persalinan
    1. Riwayat Kehamilan, kelahiran dan nifas yang lalu
Untuk mengetahui apakah dalam nifas yang lalu pernah mengalami perdarahan
10. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas sekarang
a. Riwayat kehamilan
§  ANC      : minimal 4 kali selama hmil
§  TT                       : 2 kali
§  Hidramnion
§  Hamil ganda
§  Grande multipara
b. Riwayat persalinan
- UK           :
- Kehamilan tunggal/hidup/
- Cara persalinan normal
- Tgl lahir    : ……, Hidup; sex
- Tempat     : ….., BBL : …..
- Plasenta lahir lengkap, perdarahan : ......,episiotomi / tidak
§  Grande multipara
§  Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun
§  Persalinan yang dilakukan dengan tindakan, pertolongan kala uri sebelum waktunya, pertolongan oleh dukun, persalinan dengan tindakan paksa.
§  Perdarahan pasca partus primer (dini)
Ø  Atonia uteri
Ø  Retensio plasenta
Ø  Plasenta rest
Ø  Trauma persalinan rupture uteri dan hematoma
Ø  Gangguan pembekuan darah
§      Perdarahan pasca partus sekunder
Ø  Plasenta rest dan tertinggalnya selaput ketuban.
Ø  Trauma persalinan, bekas SC-pembuluh darah terbuka
Ø  Infeksi menimbulkan sub involusi bekas implantasi plasenta.
c.  Riwayat Nifas
§  lochea serosa (berwarna kuning cair tidak berwarna lagi)
§  Keadaan umum lemah-anemia
§  Multiparitas
§  Pasca tindakan operasi vaginal
§  Distensi uterus berlebihan
§  Trauma persalinan
·      Robekan vagina dan perineum
·      Robekan serviks
·      Robekan vorniks
·      Robekan uterus
§  Gangguan kontraksi : covulaire uteri

11.  Riwayat KB
Setelah masa nifas ikut KB yakni 2 minggu post partum/ 40 hari post partum

12.  Pola Kebiasaan Sehari-hari
a.    Pola Nutrisi
Ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan kalori 500 tiap hari. Makanan harus diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup. Pil zat besi harus diminum minimal 40 hari pasca melahirkan. Minum sedikitnya 3 liter, minum zat besi, minum kapsul vitamin A dengan dosis 200.000 unit.
b. Pola Aktifitas
     Melakukan mobilisasi dini lalu bertahap setelah ibu merasa kuat
c.  Pola Istirahat
                                      - Adakah gangguan dan kebiasaan khusus dalam beristirahat
                                      - Berapa jam waktu istirahat (pada waktu siang dan malam)
d.                          Pola Eliminasi
BAK : hendaknya dapat dilakukan sendiri mungkin karena kandung kemih yang penuh dapat menyebabkan perdarahan.
BAB : Buang air besar harus dapat dilakukan 3-4 hari pasca persalinan, bila tidak bisa maka diberi obat peroral atau perektal atau klisma.
e. Personal Hygiene
Anjurkan ibu membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air mulai depan kebelakang yaitu dari vulva ke anus. Sarankan untuk mengganti pembalut minimal 2x sehari, sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan alat kelaminnya. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi sarankan untuk tidak menyentuh luka tersebut.
f.    Pola Hubungan Seksual
Dalam kehamilannya selama ini ibu masih melakukan hubungan suami istri/tidak sama sekali.Berapa kali dalam satu minggu.
g. Pola Kebiasaan Lain
Untuk mengetahui kebiasaan ibu yang mengganggu kesehatan selama hamil seperti minum minuman keras,jamu-jamuan         
13.  Keadaan Psikososial, Spiritual dan Budaya
-   Psikologis
·            Fase “Taking In” (ketergantungan)
        Perhatikan ibu terutama terhadap kebutuhan diri sendiri, pasif dan berlangsung 1-2 hari. Ibu tidak menginginkan kontak dengan bayinya, tetapi bukan berarti tidak memperhatikan.
·            Fase “Taking Hold” (perpindahan dari ketergantungan ke mandiri)
        Perhatian terhadap kemampuan mengatasi fungsi tubuh, misalnya :BAB, BAK, melakukan aktivitas duduk, jalan dan juga mulai belajar tentang perawatan anaknya. Sering timbul kurang percaya diri.
·            Fase “Letting Go” (perpindahan dari mandiri ke peran ibu)
        Terjadi peningkatan kemandirian dalam perawatan diri dan bayinya.Merasa bayi terpisah dari dirinya.


-   Sosial Budaya
  Hubungan antara ibu dengan suami,keluarga dan masyarakat dilingkungan sekitarnya.Adanya pantang makan selama hamil dan menyusui.
-   Spiritual
  Agama yang dianut ibu dan keluarga
B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum              :  lemah
Kesadaran                      :  Composmentis
BB                                  : Kenaikan BB dari sebelum dan selama   hamil 9-13kg
TD                                  : meningkat lebih dari 130/100 mmHg
Suhu                               : meningkat lebih dari 370C
Nadi                               : meningkat lebih dari 88x/menit
Respirasi                         : meningkat lebih dari 24x/menit
2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Muka             : anemis, tidak oedem
Mata  : seklera tidak ikterus, congjungtiva anemis
Bibir   : kering dan anemis
Payudara : hyperpigmentasi aerola mamae, hypervakularisasi, putting susu  menonjol
Perut : TFU setinggi pusat, tidak ada bekas luka SC, ada strie, tidak ada benjolan abnormal
Genetalia : bersih, lochea rubra, ada/ tidak jahitan, perdarahan ± 400cc

b. Palpasi
Payudara : konsistensi, tidak ada benjolan / massa abnormal, keluar ASI +/+, tidak ada nyeri tekan
Abdomen : TFU setunggi pusat, UC : lembek, kandung kencing penuh,ada nyeri tekan

3. Data bayi:
Jenis kelamin      :
BB/PB                : 2500 s/d 4000 gram/ 45 s/d 55 cm
KU                     : Baik
AS                      : 8 – 9
Tidak ada kelainan kongunital, tidak ikterus

4. Pemeriksaan Laboratorium
   Golongan Drah           :
   HB                  : normal 8-9%

5.   Terapi
-    Pasang Infus
-    Tranfusi darah
-    Pemberian antibiotic
-    Pemberian uterotonika
II. Identifikasi Diagnosa dan Masalah
DX  : P….Ab…. 2 jam post partum dengan HPP
DS   :
DO  :   - Keadaan umum         : lemah
-    Kesadaran                : Composmentis
-    Tensi                         : meningkat lebih dari 130/100 mmHg
-    Suhu                         : meningkat lebih dari 370C
-    Nadi                         : meningkat lebih dari 88x/menit
-    Respirasi                   : meningkat lebih dari 24x/menit
-    Muka   : anemis, tidak oedem
-    Mata  : seklera tidak ikterus, congjungtiva anemis
-    Bibir   : kering dan anemis
-    TFU setinggi pusat,UC lembek,kandung kencing penuh,ada nyeri tekan
-    Perdarahan ± 500cc warnanya merah kehitaman dan bergumpal-gumpal,ada jahitan pada perineum

    III.         Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
·         Infeksi
·         Anemia
·         Syok hemoragic
·         HHP Skunder
·         Terjadi Sub involusi

    IV.        Identifikasi Kebutuhan Segera
·         Infus
·         Pemberian antibiotika
·         Pemberian uterotonika
·         Cari penyebab perdarahan
·         Masase uterus
       V.        Intervensi
DX      : P….Ab…. 2 jam post partum dengan HPP
Tujuan : Perdarahan berhenti/dapat diatasi
Kriteria hasil :
-          TTV dalam batas normal
-          Tidak terjadi komplikasi
-          Proses involusi berjalan dengan baik
-          Lochea keluar sesuai hari nifas
Intervensi :
1.      Pasang Infus
R/ Mengganti cairan yang hilang
2.      Berikan uterotonika
R/ Mempertahankan kontraksi agar membaik
3.      Cari penyebab perdarahan
R/ Mendeteksi sumber penyebab perdarahan
4.      Lakukan masase uterus
R/ Merangsang kontraksi uterus
5.      Observasi perdarahan
R/ Parameter untuk mencegah perdarahan lebih lanjut
6.      Berikan antibiotik
R/ Membunuh mikroorganisme patologi dalam tubuh
VI.       Implementasi
Dilakukan sesuai intervensi
Tanggal  :                       jam :
DX         : P….Ab…. 2 jam post partum dengan HPP
VII.   Evaluasi
Tanggal   :                       Jam :
DX         : P….Ab…. 2 jam post partum dengan HPP
S             :
O            :- Terpasang infuse
                - Penyebab perdarahan tertinggalnya sisa plasenta,atonia uteri,robekan jalan lahir,penyakit darah/kelainan pembekuan darah
                - Pemberian uterotonika (metergin o,2mg) dan antibiotic (amoxilin 500mg)
                - Perdarahan ± 500 cc,UC lembek,TFU setinggi pusat,kandung kencing penuh
- TD : meningkat lebih dari 130/100 mmHg
-  S    : meningkat lebih dari 370C
-  N   : meningkat lebih dari 88x/menit
-  RR: meningkat lebih dari 24x/menit
A                        : P….Ab…. 2 jam post partum dengan HPP
P             : -   Observasi jumlah perdarahan
                 -   Observasi KU dan TTV
                 -   Observasi 2 jam post partum
  -  Observasi KU ibu dan bayi

DAFTAR PUSTAKA
Cristine ibrahim. 1996. PERAWATAN KEBIDANAN jilid 3. jakarta : Bratara

Muchtar rustam, 1998. SINOPSIS OBSTETRI Obstetri Fisiologis,
      Obstetri patologis edisi 2. Jakarta : EGC
      Marillin, E Doengus. 2002. RENCANA PERAWATAN MATERNITAS
      dan BAYI. Jakarta :EGC
      Saifudin AB. 2002. BUKU PANDUAN PRAKTIS PELAYANAN KESEHATAN MATERNAL DAN NEONATAL. Jakarta : YBP-SP
      Wiknjosastro Hanifa, 1999 ILMU KEBIDANAN. Jakarta :YSB-SP
      FKUI, 1998. ILMU KESEHATAN ANAK JILID 1 dan 3, Jakarta: FKUI
      Saleha,dkk. Asuhan Kebidanan Antenatal. 2006. Jakarta : EGC
      Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. 2008. Jakarta : BP-SP
      Mansur, Herawati. Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan. 2009. Jakarta:Penerbit Salemba
      Varney, Helen. Buku Ajar-Asuhan Kebidanan. 2007. Jakarta: EGC




0 komentar: