Minggu, 06 Januari 2013

ASUHAN ANAK SAKIT DENGAN DHF


BAB  I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang
Penyakit dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbo virus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypty betina. Masa tunas 3 – 15 hari, tetapi rata-rata 5 – 8 hari (Perawatan Anak Sakit, 342)..
Virus dengue masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk dan reaksi tubuh merupakan reaksi yang biasa terlihat pada infeksi oleh virus. Reaksi yang amat beda akan tampak. Apabila seseorang mendapat infeksi barulah dengan tipe virus dengue yang berlainan. Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh penderita akan mengalami keluhan dan gejala karena veriminal, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal seluruh badan.
Berdasarkan jumlah kasus DBD, Indonesia menempati urutan kedua setelah Thailand. Tahun 1998 DBD di Indonesia 27 orang per 100.000 penduduk dengan penderita sebanyak 47.373 orang, 1.527 dilaporkan meninggal dunia dari 2001 daerah tingkat II.
Pengobatan terhadap virus ini sampai sekarang bersifat menunjang agar pasien dapat bertahan hidup. Obat yang diberikan adalah biasanya berupa penurun panas dan penghilang rasa sakit pada otot / sendi dapat juga dikompres apabila suhu tinggi.
Pasien DBD harus diawasi secara ketat, karena dapat timbul komplikasi seperti perdarahan otak, ARDS (Sindroma Distres Nafas Dewasa) Infeksi nosokomial seperti pneumonia, tromboflebitis renjatan septik.
Oleh karena itu tenaga kesehatan harus dapat melaksanakan asuhan kebidanan agar komplikasi tidak terjadi.

1.2    Tujuan
1.2.1      Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan manajemen Asuhan kebidanan Varney sesuai dengan kasus DHF.
1.2.2      Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa mampu melakukan pengumpulan data pada anak dengan kasus DHF.
b.      Mahasiswa mampu mengidentifikasi diagnosa, masalah, kebutuhan, pada anak dengan DHF.
c.       Mahasiswa dapat mengetahui masalah potensial pada anak dengan DHF.
d.      Mahasiswa dapat mengetahui tindakan segera pada anak dengan DHF.
e.       Mahasiswa mampu melaksanakan rencana yang akan dilakukan pada anak dengan DHF.
f.       Mahasiswa dapat melaksanakan rencana yang telah direncanakan pada anak dengan DHF.
g.      Mahasiswa dapat mengevaluasi seluruh / sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai dalam melakukan tindakan pada anak dengan DHF.

1.3    Manfaat Penulisan
1.3.1      Bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan tentang asuhan kebidanan pada kasus DHF.
1.3.2      Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan kepustakaan tentang asuhan kebidanan pada kasus DHF.
1.3.3      Bagi Pasien
Dapat memberikan informasi tentang penyakit DHF.
1.3.4      Bagi Lahan Praktek
Sebagai masukan dalam menerapkan manajemen kebidanan.

1.4    Metode Pengumpulan Data
1.4.1      Wawancara
Pengumpulan data dengan tanya jawab langsung pada klien dan keluarga.
1.4.2      Observasi
Pengamatan langsung terhadap perubahan yang terjadi pada klien.
1.4.3      Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi.
1.4.4      Studi Kepustakaan
Dengan mempelajari buku-buku dan masalah-masalah yang ada hubungannya dengan DHF.
1.4.5      Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa seperti pemeriksaan laborat, rontgen, USG.
1.4.6      Dokumentasi
Suatu cara untuk memperoleh data dengan melihat data yang sudah ada dalam status pasien.

















BAB II
LANDASAN TEORI


2.1    Konsep Dasar DHF
2.1.1      Pengertian
DHF adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue tipe I-IV dengan manifestasi klinis 2-7 hari disertai dengan gejala perdarahan. Bila timbul renjatan, angka kematian cukup tinggi (Kapita selekta kedokteran hal 49 tahun 1997)
2.1.2      Diagnosa
-          Demam 2-7 hari
-          Perdarahan
§  Rumpletes (+)
§  Ekhimose
§  Perdarahan pada gusi
§  Epistaksis
§  Hematemesis
§  Melena
-          Gejala klinis
§  Mual
§  Mentah
§  Perut kembung
§  Pusing
§  Badan terasa sakit semua
-          Laboratorium
§  Terjadi tromboemboli < 1000000/cm
§  Hb meningkat
§  PCV meningkat > 20 %
2.1.3      Patofisiologi
§  DBD biasanya timbul pada infeksi sekunder dengan virus dengue tipe I0IV
§  Pada hari ke 3-5 dapat timbul renjatan hipovolemik karena permeabilitas pembuluh darah yang meningkat (plama leakeade), kebocoran ini disebabkan oleh mediator-mediator tertentu (anafilaktosin) yang dibentuk di sel-sel mana nuklear karena rangsangan virus dengue.
§  Perdarahan dapat terjadi karena vaskulopati trombopati dan koagulopati pada kasus yang berat, perdarahan dapat disebabkan gangguan faal hepar.
§  Selain itu ditentukan tanda-tanda terjadinya koagulasi intravaskular yang menyeluruh (DIC) 
2.1.4      Gejala Klinis
Menurut derajat ringan penyakit DBD dibagi 4 bagian
1.      Derajat I
-          Demam 2-7 hari
-          Gejala umum khas
-          Rumplet tes (+)
2.      Derajat II
-          Gejala derajat I
-          Timbul perdarahan spontan seperti
-          Pteki
-          Ekimase
-          Epistaksis
-          Hematemesis melena
-          Perdarahan pada gusi dan telinga
3.      Derajat III
-          Gejala derajat II
-          Terjadi kegagalan pada peredaran darah seperti
-          Nadi cepat dan lemah > 120 x/mnt
-          Tekanan darah sempit (<20 mmhg="mmhg" p="p">
-          Tekanan darah menurun

4.      Derajat IV
-          Gejala derajat III
-          Nadi tidak teraba
-          Tekanan darah tidak teratur
-          Denyut jantung > 140 x/mnt
-          Anggota gerak teraba dingin
-          Berkeringat
-          kulit tampak biru
Gejala – gejala lain
-          Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan
-          Asites
-          Cairan dalam rongga perut
-          Ensefalopati kejang, gelisah, sopor, koma
2.1.5      Pemeriksaan Diagnosa
-          Trombositopenia (<100 .000=".000" mm="mm" sup="sup">3
)
-          Hb dan PCV meningkat (>20%)
-          Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis)
-          Isolasi virus
-          Serologis (uji H1) respon anti bodi sekunder
Pada renjatan berat diperiksa
-          Hb PCV berulang kali (setiap jam apabila sudah menunjukkan tanda perbaikan)
-          Faal hemostatis / FDP
-          EKG
-          BUN/SC
2.1.6      Diagnosa Banding
-          Belum atau tanpa renjatan
§  Campak
§  Infeksi bakteri atau virus lain (tensila faringitis, demam dari kelompok penyakit exanthem hepatitis)
-          Demam renjatan
§  Demam thypoid
§  Renjatan septik kuman gram negatif lain
-          Dengan perdarahan
§  ITP – STP (virus lain)
§  Leukimia
§  Anemia
-          Dengan kejang
§  Meningitis
§  Enchepalitis
2.1.7      Penatalaksanaan
Induksi rawat tinggi pada dugaan infeksi dengue :
-          Panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena panas, muntah, pemasukan kurang) kejang-kejang
-          Panas 3-5 hari disertai nyeri perut pembesaran hati uji teoriguak positif atau negatif karena sakit keras (tidak mau bermain), Hb dan PCV meningkat
-          Panas disertai pendarahan
-          Panas disertai renjatan
§  DHF grade I
-          RL DS : 3 cc/kg/jam
-          Evaluasi TTV
§  DHF grade II
-          RL DS 3 cc/kg/jam
-          Evaluasi TTV
§  DHF Grade III
-          RL : 10 – 20 cc/kg/jam
-          Evaluasi TTV
Baik     : RL DS 7 cc/kg/jam à 5 cc/kg/jamà 3 cc/kg/jam
Jelek    : RL 10 cc/kg/jam atau plasma 10 cc/kg/jam à stabil dan dilanjutkan dengan rumus 7-5-3
Perdarahan : WBC sesuai volume perdarahan Hb, PCV, tromboserial
2.1.8      Terapi Suportif
-          Oksigenasi
-          Nutrisi
-          Antibiotik

2.2    Askeb Teori
2.2.1        Pengkajian Data
A.    Data Subyektif
1.      Biodata
Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, dan alamat
2.      Keluhan utama
-          Demam mendadak terus menerus 2-7 hari
-          Perdarahan spontan (petekhi, epitaksis, perdarahan gusi) kadang disertai mual-mual, nyeri kepala
3.      Riwayat penyakit sekarang
Derajat I     :   Panas 2-7 hari, gejala umum tidak jelas, rumplet tes (+)
Derajat II   :   Derajat I + gejala perdarahan spontan (pethekhi, epitaksis, ekhimosisi, perdarahan gusi, hematemesis, melena, dll)
Derajat III  :   Derajat II dan gejala kegagalan sirkulasi darah (nadi cepat > 120 tekanan darah sempit < 20 mmHg dan turun)
Derajat IV  :   Nadi tidak teratur tekanan darah tidak teratur, anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru
4.      Riwayat penyakit dahulu
Pasien pernah atau tidak pernah terinfeksi virus dengue

5.      Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita oleh salah satu anggota keluarga yang meliputi penyakit menular atau menahun
6.      Riwayat neonatus
a.       Prenatal
Riwatay yang menyatakan sejak dalam kandungan
b.      Natal
Riwayat dimana kandungan telah berakhir / pada waktu persalinan
c.       Post natal
Riwayat dimana sesudah masa kandungan berakhir (setelah persalinan)
7.      Riwayat Imunisasi
Untuk mengetahui imunisasi apa saja yang sudah didapat oleh pasien
8.      Pola Kebiasaan Sehari-hari
Untuk mengetahui kebiasaan sehari-hari yang dilakukan pasien
a.       Pola Nutrisi
Variasi (berbagai bentuk) makan apa saja yang dikonsumsi, frekuensi, komposisi dan porsi yang dikonsumsi oleh pasien.
b.      Pola Aktivitas
Untuk mengetahui aktivitas apa saja yang bisa dilakukan oleh pasien
c.       Pola Istirahat Tidur
Untuk mengetahui berapa lama waktu istirahat anak terganggu atau tenang
d.      Pola Eliminasi
BAB   : Frekuensi, konsistensi à konstipasi, melena
BAK  : Hematuria, anuria
B.     Data Obyektif
a.       Keadaan Umum
Kesadaran            : composmentis, apatis, somnolen, sopor, coma
TTV          :  T       : Hipotensi (sistolik < 80 mmHg)
                    S       : Meningkat akut ± 5 hari turun
                   N       : Cepat dan lemah
                   RR     : Bisa sesak nafas sampai sianosis
b.      Pemeriksaan Fisik
Kepala          :   Nyeri, kepala atau pusing
Hidung         :   Epitaksis, sianosis perifer
Telinga         :   Serumen ada atau tidak, dingin dan lembab / tidak
Mulut&gigi  :   Mukosa, bibir kering, perdarahan gusi, sianosis
Tenggorokan    Sakit waktu menelan, hyperemia
Dada            :   Thorox à pleure effusion
Abdomen     :   Nyeri ulu hati, heptomegali, distensi, asites
Genetalia      :   Kelaminnya apa bersih/tidak, ada kelainan/tidak
Eks               :   Akral hangat dan dingin petelchi (+), sianosis perifer
c.       Pemeriksaan Penunjang
Darah       :  -    Trombositopenia < 100.000/mm3
-          Hb meningkat > 20 %]
-          Hemokonsentrasi  (hemotrokit meningkat)
-          Kimia darah hiponatremia, hipoprotemia, hipokroremia
Urine:  -    Albumin
-          Hematuria
Foto thorox : pleura effusion
USG : hepatomegali, splenomegali
2.2.2        Identifikasi Diagnosa, Masalah dan Kebutuhan
Diagnosa dan masalah yang muncul dari hasil pengumpulan data yaitu secara subyektif maupun obyektif.
2.2.3        Antisipasi Masalah Potensial
-          Syok hypofolemik
-          Kejang
2.2.4        Identifikasi Kebutuhan Segera
Tindakan segera yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk mencegah penyakit atau maslah yang berlanjut.
2.2.5        Intervensi
Dx            : An ”………” Umur…… dengan DHF grade ii
Tujuan  :   Setelah dilakukan Asuhan kebidanan selama 2x24 jam diharapkan keadaan pasien membaik
Intervensi
1.      Melakukan pendekatan pada px dan keluarga
R/   Dengan pendekatan diharapkan px dan keluarga dapat kooperatif dan terjalinnya kepercayaan terhadap petugas
2.      Observasi adanya tanda-tanda perdarahan baru
R/   Sebagai parameter utama untuk mengetahui sejauh mana kepercayaan penyakit sehingga dapat segera diatasi
3.      Observasi TTV
R/   TTV merupakan parameter utama untuk mengetahui perkembangan kondisi pasien
4.      Kolaborasi dengan tim medis dengan dalam pemberian terapi
R/   Dengan terapi yang dapat diharapkan kondisi px semakin membaik
Masalah : Peningkatan  suhu tubuh
Tujuan  : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1x6 jam diharapkan masalah dapat teratasi
1.      Anjurkan dan motibasi ibu untuk mengompres anaknya
R/   Kompres dingin dapat menurunkan panas melalui proses konduksi
2.      Anjurkan pasien untuk banyak minum
R/   Dengan minum banyak panas dapat dikeluarkan melalui urine
3.      Anjurkan pasien untuk berpakaian tipis dan menyerap keringat
R/   Membantu turunkan panas dengan proses evaporasi
4.      Observasi TTV tiap 2-3 jam
R/   Mengetahui keadaan umum pasien
5.      Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian anti piretik
R/   Membantu menurunkan panas pada badan
2.2.6        Implementasi
Merupakan realisasi dari intervensi yang ditetapkan namun dalam kegiatan tertentu tindakan yang harus dilakukan disesuaikan dengan kondisi anak.
2.2.7        Evaluasi
Dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah dilakukan dengan menggunakan :
S     :   Pernyataan subyektif yang dinyatakan pasien
O    :   Keadaan pasien yang dapat diamati secara langsung oleh petugas
A    : Pernyataan tentang gangguan yang terjadi apakah sudah teratasi atau belum
P     :   Rencana intervensi yang akan dilakukan



DAFTAR PUSTAKA


Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : Buku Kedokteran, EGC.

Noer, Syaifulloh. 1996. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi ke-3. Jakarta : FKUI.

Nelson. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Buku Kedokteran vol. 1, EGC.

Dongoes, Martyn, E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : Buku Kedokteran, EGC.


0 komentar: